Awal pekan ini, pasar global dan domestik sama-sama mencatat pergerakan signifikan di sektor logam mulia. Lonjakan harga perak dunia menjadi pemicu utama meningkatnya minat investor terhadap saham tambang, sementara harga emas di dalam negeri cenderung bertahan di level tinggi.
Di pasar internasional, harga perak melesat menembus US$100 per troy ons, bahkan mencetak rekor baru di kisaran US$103–104. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global, ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat, serta keterbatasan pasokan fisik di pasar London.
Sentimen positif tersebut berdampak ke Bursa Efek Indonesia. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak lebih dari 11% ke level Rp4.780, sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik sekitar 6%, dan Merdeka Copper Gold (MDKA) menguat hampir 5%. Kinerja saham-saham ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek sektor pertambangan di tengah reli harga komoditas global.
Di sisi lain, harga emas batangan Antam di Pegadaian pada Senin (26/1/2026) relatif stabil. Emas ukuran 1 gram dijual di kisaran Rp3,16 juta dengan harga buyback sekitar Rp2,74 juta, sementara ukuran besar hingga 1 kilogram dipasarkan di atas Rp3 miliar. Stabilitas ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Kombinasi kenaikan harga perak dunia, penguatan saham tambang, dan stabilnya harga emas domestik menegaskan peran logam mulia sebagai aset favorit investor di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.
