Pasar keuangan awal pekan ini diramaikan oleh lonjakan tajam harga logam mulia yang berdampak langsung pada saham-saham sektor pertambangan dan investasi berbasis emas di dalam negeri.
Harga perak dunia mencetak sejarah baru setelah menembus level US$100 per troy ons, bahkan sempat menyentuh US$103, tertinggi sepanjang masa. Pada Senin (26/1/2026) pagi WIB, harga masih melanjutkan penguatan ke US$104,68 per troy ons. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global, ekspektasi penurunan suku bunga AS, serta keterbatasan pasokan fisik logam mulia di pasar internasional.
Kondisi tersebut turut tercermin di pasar saham Indonesia, khususnya sektor tambang. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melesat 11,42% ke level Rp4.780, disusul PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 6,11%, serta Merdeka Copper Gold (MDKA) yang menguat 4,85%. Kinerja ini mencerminkan sentimen positif investor terhadap komoditas berbasis logam, seiring melonjaknya harga emas dan perak dunia.
Sementara itu, di pasar domestik, harga emas batangan Antam di Pegadaian pada Senin (26/1/2026) tercatat relatif stabil. Harga emas ukuran 1 gram berada di Rp3.168.000, dengan harga buyback Rp2.741.000. Untuk ukuran besar, emas 100 gram dijual Rp310.434.000, sedangkan emas 1 kilogram mencapai Rp3,10 miliar. Stabilitas ini menunjukkan kuatnya permintaan emas fisik meskipun harga global sedang berada di level historis.
Kombinasi reli harga perak dunia, penguatan saham tambang, serta stabilnya harga emas domestik menegaskan bahwa logam mulia masih menjadi pilihan utama investor sebagai pelindung nilai di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
